Jumat, 13 Februari 2009

Spiritualitas injili, transfomasi sosial dan kekaisaran global

Oleh : Andi Rahadian

The reality of the presence of the kingdom gives us the courage to begin here
and now to erect signs of the kingdom by working prayerfully and consistently for
greater justice and peace and toward the transformation of individuals and societies.
Since one day God will wipe away all tears, it grieves us to see people suffer now.
Since one day there will be perfect peace, we are called to be peacemakers now.
It is the call upon the churches, to stand in this ministry of practising love and seeking to restore the dignify of human beings created in the image of God.


Ketika kaum beragama dihadapkan masalah keadilan sosial apakah solusi yang dapat diberikan oleh mereka? Saat ini ketika kekristenan injili dihadapkan pada masalah kemiskinan dan ketidakadilan sosial , kaum injili masih menjawabnya dengan gagap dan menyikapi secara simplisistis. Spiritualitas cenderung dipahami secara parsial sebagai relasi vertikal manusia dengan Allah melalui kebaktian,doa,hymne,pujian dan kalaupun ada yang bersifat horizontal ,pada umumya saat ini ekspresi spiritualitas injili secara terbata-bata dicoba diejawantahkan dalam bentuk bentuk-bentuk aksi sosial karitatif pada kalangan yang terbatas.
Pada awal abad 21 dimana masalah ketidakadilan sosial global ,kemisikinan ,keterputusan akses setengah dari jumlah anak-anak usia sekolah dinegara dunia ketiga pada pendidikan dasar ,masalah ekologi dan sekelumit issue sosial lainnya yang mengancam keberlangsungan kehidupan umat manusia yang beradab ,maka sudah saatnya kaum injili mencoba mereformasi dan melakukan ekstensifikasi dalam pemahaman misi yang aktual saat ini,dan menjadikannya bagian dari pergumulan dalam perjalanan spiritualitasnya sebagai pengikut Yesus Kristus.
Ekstensifikasi issue keadilan sosial dalam spiritualitas injili
Masalah penderitaan manusia memang merupakan hal yang kompleks. Dari perspektif teologi injili penderitaan dipahami sebagai bagian yang tak terlelakan dari wawasan dunia kristen tetang kejatuhan manusia kedalam dosa.Diyakini oleh kaum injili tanpa ragu bahwa dampak kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa ditaman Eden,telah menjadi batu roseta yang menjelasan asa-muasal penderitan manusia. Ketidakadilan sosial ,kemiskinan dan penderitaan adalah hasil ketidaktaatan manusa pertama yaitu Adam dan Hawa kepada hukum Allah (band : Kejadian 3 :1-10). Pilihan mereka (Adam dan Hawa) untuk melawan hukum Allah menandakan keinginan mereka untuk memberontak dan hidup otonom lepas dari hukum-hukum Allah. Sehingga secara ironis ,keinginan untuk “merdeka” tersebut telah memenjarakan mereka dibawah kutukan Allah dimana pada akhirnya semua manusia menjadi hamba dari dosa.Pemahaman inilah yang menjadi penjelasan ultimat kaum injili pada umumnya tentang asal mula ketidakadilan sosial yang dialami oleh umat manusia disepanjang sejarah. Sehingga segala macam penindasan oleh satu manusia pada manusia lain,pemerintah terhadap rakyatnya,penindasan suku bangsa kepada suku bangsa lain dipahami sebagai bagian yang tak terelakan dari dosa manusia.Jawaban terhadap masalah manusia yang berdosa adalah inisiatif dan kedaulatan Allah untuk menyelamatkan manusia melalui karya penebusan Putra Allah ,Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Sehingga setiap manusia yang percaya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal(Band.Yoh 3 :16) dan memperdamaikan manusia berdosa dengan Allah karena dosa-dosanya sudah diampuni didala penebusan Yesus Kristus.
Pemahaman inilah yang memotivasi banyak badan misi injili dan gereja-gereja injili untuk melakukan penginjilan kepada semua golongan orang dari berbagai latar belakang agama,suku bangsa.Karena injil dipahami sebagai satu-satunya carauntuk manusia diperdamaikan dengan Allah . Yang menjadi masalah adalah seringkali pemahaman penebusan dan dampaknya hanya dipahami dalam konteks transformasi pribadi saja. Penekanan pada pemuridan kristen injili menurut hemat penulis saat ini masih berkutat pada pietisme pribadi saja[1]. Padahal tanggung jawab pengikut Kristus yang telah diselamatkan dari dosa-dosanya dan yang relasi dengan Allah sudah dipulihkan,juga seharusnya berkaitan dengan kesalehan sosial.
Perlu diakui bahwa rekan-rekan dari kubu Kristen berhaluan Oikumenikal dan Katolik Roma telah melangkah lebih maju dalam pemahaman akan issue-issue ketidakadilan sosial dan kesalehan sosial. Memang tidak dapat ditampik ada perbedaan teologis yang tajam yang mendasari perbedaan penyikapan terhadap issue ini[2],tetapi kaum injili tidak perlu “alergi” dan mencurigai issue terhadap keadilan sosial sebagai sesuatu yang akan menghalangi fokus gereja terhadap pemberitaan injil. Alkitab menjelaskan bahwa wawasan dunia Kristen tentang penebusan juga tekait dengan transformasi sosial.Orang –orang percaya didalam Kristus yang telah mengalami pembenaran,penyucian dan pengadopsian oleh Allah untuk mejadi anak-anakya (didalam dunia ini),juga tetap memiliki tugas selain menunggu Parousia (Kedatangan Kristus yang kedua kali ) yaitu dengan “melakukan pekerjan baik “ yang ditetapkan oleh Allah sebelumnya.( Band Efesus 2 :1-10) .Penulis akan mencoba paparkan beberapa pernyataan Alkitab yang memanggil umat percaya untuk turut menjadikan tugas mewujudnyatakan keadailan sosial sebagai bagian yang integratif dari panggilan dan tanggungjawabnya sebagai pengikut Kristus.
Kerajaan Allah; cara hidup umat Allah untuk menegakan keadilan sosial ditengah dunia yang tidak adil.
Perjanjian Baru didalam kitab injil juga memberikan satu terminologi baru tentang gambaran hidup dan cara hidup orang pecaya kedalam satu terminologi yang diberi judul oleh Yesus sebagai “hal Kerajaan Allah”. Dimana didalam terminologi “Kerajaan Allah “ ini terkandung makna bahwa pengikut Kristus dipanggil oleh Yesus sendiri untuk hidup didalam cara dan pandangan yang baru sebagai orang yang sudah diperdamaikan dengan Allah yang diejawantahkan dalam sikap hidup yang mengutamakan relasi kasih dengan sesama manusia dan kemanusiaan seperti juga dengan relasi kasih kepada Allah. (Band. Matius 22:34-40[3]) .
Variabel ini saling mengikat dan mempengaruhi. Misalnya saja Yesus mengambarkan bahwa orang yang tidak mengampuni kesalahan saudaranya digambarkan sebagai orang yang belum memahami dan mengalami realitas pengampunan Allah secara eksistensial (Band .Matius 18:21-35). Yesus juga memberi parabel dan penjelasan yang menohok orang-orang Yahudi tentang siapakah sesama manusia yang perlu dikasihi dan mendapkan perhatian (Band .Lukas 10:25-37). Dari perspektif Yesus cara anggota kerajaan Allah mengasihi, sebagai orang yang sudah memiliki hidup yang kekal digambarkan dengan kisah orang Samaria yang melakukan aksi konkret untuk menolong orang Yahudi ( yang secara idelogis dan agama memliki pandangan yang bersebrangan dengan dia), yang dirampok dan terluka parah karena dipukuli habis-habisan. Orang Samaria ini dengan tanpa pamrih dan penuh resiko[4] menolong si korban bahkan membiayai seluruh pengobatannya ,tanpa ada tujuan proselitisme (pengkoversian agama),motivasi ekonomis atau apapun.
Yesus juga pernah memberikan parabel yang sangat mengejutkan bagi para pendengarnya,ketika Yesus menjelaskan bahwa Kerajaan Allah pada penghakiman yang terakhir kelak akan diberikan bagi mereka yang “memberikan makan ketika Aku lapar,memberikan minum ketika aku haus ,memberikan tumpangan ketika aku menjadi orang asing. (band. Matius 25 :34-40).Para pendengar Yesus bertanya:
”Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia,katanya:Tuhan bilamanakah kami melihat Engkau lapar, dan memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum ?Bilamanakah kami melihat Engkau melihat sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan mengunjungi Engkau? (Matius 25 :37-39)
Yesus menjawab dengan pernyataan ” Sesungguhnya segala sesuatu yang engkau lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini kamu telah melakukannya untuk Aku”.(Matius 25 :40)
Tuhan Yesus mengidentikkan dirinya dengan orang-orang yang kelaparan,kehausan,telanjang,tertindas dipenjara ,mengalami ketidakadilan secara politis,ekonomi,dan lain-lain. Allah digambarkan sebagai bagian dari dunia ynag menderita.Sehingga ketika warga kerajaan Allah yaitu umat percaya mengambil bagian untuk peduli da bertindak untuk menolong orang-orang miskin,terdindas,kelaparan dan yang mengalami ketidakadilan sosial, dalam kesadaran dan pemahaman dari Matius 25:34-40 ini maka umat percaya sedang menghidupi realita kerajaan Alah didunia ini.
Realita dimana kerajaaan Allah memberi keberanian untuk memulai dimasa ini Untuk menegakkan kerajaan Alah yang “sedang” dan yang akan “datang” ini dalam doa dan karya yang konsisiten menuju transformasi individu dan masyarakat.Ini adalah panggilan agung bagi gereja yang kedua dan sama pentinnya selain memberitakan injil keselamatan didalam Kristus Yesus yaitu menegakkan kehormatan kemanusiaan sesuai dengan gambaran penciptanya .

Tanda zaman : Ketidakadilan sosial dan Kekaisaran Global.
Pengikut Kristus perlu memahami “tanda-tanda Zaman untuk dapat mengikuti perintah Kristus diwaktunya. Ditengah dunia kita yang belum mengenal injil , kita juga hidup dizaman ketidak adilan,kemiskinan dan kelaparan menyerang masyarakat dunia diberbagai negara tanpa kecuali Indonesia. Sensus ekonomi internasional dan Bank dunia pada Tahun 2006 [5]menemukan fakta-fakta yang menyedihkan seperti :
1 Miliar orang( 70 persennya didunia belahan selatan) didunia ini hidup dengan penghasilan kurang dari 1 dollar amerika/hari.(Di saat yang sama dibelah utara 50vuuta orang mendapat penghasilan 100 juta dolar /hari !)
824 juta orang didunia menderita kelaparan ( makan 4 kali dalam satu minggu!)pada tahun 2003.
77 Juta anak usia sekolah sekolah dasar tidak mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Secara global 1 dari 5 anak perempuan usia sekolah dasar dibenua Afrika dan timur tengah tidak mengenyam pendidikan dasar formal.
1,1 Milyar orang didunia saat ini tidak memperoleh akses kepada air bersih layak pakai dan minum.
500.000 orang ibu yang melahirkan meninggal tiap tahunnya karena minimnya akses kesehatan,obat-obatan dan peralatan yang tidak higienis yang dipakai selama proses persalinan.
Negara-negara dengan penghasilan nasional bruto yang rendah, setiap tahunnya harus membayar hutang sebesar 26 juta dollar per tahunnya disaat peekonomian negaranya masih sangat rentan.
Ulrich Duchrow dalam bukunya tentang globalisasi yang fenomenal “Alternatives to global capitalism :Drawn for biblical history.Design for Political action, mengatakan bahwa :”Secara global “pembangunan” pada abad ke 20 telah membawa ketidakimbangan/ketidakadilan distribusi pendapatan...ini berarti secara global kita mengalami situasi apharteid dimana perbandingan yang kaya dan yang miskin kira-kira 1:4 .[6]

UNDP pada tahun 1992-2002[7] menggambarkan rasio perbandingan itu demikian :
Distribusi Pendapatan
Terkaya







Termiskin

Seperlima populasi dunia yang terkaya menerima 82,7%
dari total pendapatan dunia.







Seperlima populasi dunia yang termiskin menerima 1,4 %
dari total pendapatan dunia.



Keterangan :
Gambar ini menunjukkan trend distribusi pendapatan global sampai tahun 2002. dengan penjelasan sebagai berikut:
Penduduk Dunia Pendapatan Dunia
Terkaya 20 % 82,7 %
Kedua 20 % 11,7 %
Ketiga 20 % 2,3 %
Keempat 20 % 1,9 %
Termiskin 20 % 1,4 %


Keadaan ini tentu bukanlah sebuah kondisi yang secara tiba-tiba terjadi dan tanpa sebab terjadi begitu saja. Atau menggunakkan istilah Adam Smith karena peran invisible hands. Para ekonom seperti Karl Polanyi,Binswanger,Alvter dan Daly [8]mengatakan bahwa penyebab ketidak adilan sosial global dan pemiskinan global dimungkinkan karena sistem ekonomi global liberal yang tidak berpihak pada kesejahteran anggota masyarakat ,melainkan berorientasi pada penimbunan kekayaan ,yang meminam istilah Marx disebabkan karena adanya pemujuaan komoditas (Fetishisme of Commodity) ,dimana semua faktor :
Kehidupan seseorang ,kebebasannya,kemanusiaannya,kemampuan orang untuk bekerja
Barang-barang,tanah
Kebebasan-kebebasan tertentu.
Semua hal-hal tersebut dikomoditaskan menjadi suatu nilai moneter tertentu,yang dalam beberapa segi karena ketamakan manusia menjadi hal yang mendehumanisasikan harkat dan martabat manusia (dari kelas pekerja) . Karena nilai –nilai hakiki yang menjadi bagian dari diri manusia diukur berdasarkan nilai moneter,maka dapat dikataan bahwa uang adalah dasar yang menjadi tolak ukur kemanusiaan. Sehingga posisi tawar-menawar antara dua kelas (pemilik modal dan pekerja) secara tidak langsung sudah dimenangkan oleh posisi pemilik modal(karena perspektif fethisisme of commodity) yang menjadi pola berpikir dari kedua belah pihak. Penulis tidak dapat menjelaskan secara mendalam tentang konsep ini dalam artikel ini. Untuk studi lebih lanjut pembaca dapat mempelajari buku alternatives to global capitalism oleh Ulrich Duchrow.
Tantangan ini didefinisikan oleh dewan Gereja dunia dengan istilah “global empire” atau kekaisaran global. World Alliance Of Reformed Church (WARC) pada tahun 2004 lewat konferensi di Acra memberikan sebuah pernyataan bersama dan definisi mengenai apa yang disebut dengan “kekaisaran global” yaitu :
“An ideology that claims to be without alternative, demanding an endless flow of sacrifices from the poor and creation.It makes the false promise that it can save the world through the creation of wealth and prosperity, claiming sovereignty over life and demanding total allegiance, which amounts to idolatry.[9]

Adapun ideologi kekaisaran global ini dianut oleh negara-negara maju dan negara-negara
industri sebagai kreditor dan investor. (Amerika serikat ,uni Eropa,dll)

Para penganut ideologi kekaisaran global ini menyebabkan krisis ekonomi diberbagai belahan penjuru dunia karena pendekatan mereka sebagai berikut :

· Kompetisi yang tidak mengenal ampun,budaya konsumerisme , sistem ekonomi penimbunan kekayaan[10]
· Privatisasi aset-aset yang menguasai hajat hidup orang banyak oleh pemilik modal yang tidak memahami obligasi sosial,tatapi hanya mengejar keuntungan semata-mata.
· Spekulasi di pasar modal tanpa memperhitungan dampak sosial,politik,budaya.
· Pajak yang sangat rendah bagi penanaman modal asing ,aliran modal asing ke industri dalam negeri yang tidak dibatasi dengan janji-janji untuk kesejahtraan rakyat . Pebisnis dalam level ekonomi mikro dipaksa bersaing raksasa ekonomi internasional tanpa proteksi.
· Perlindungan hak yang minim terhadap kaum buruh,serikat pekerja dan buruh,hubungan antar manusia yang disubordinakan dibawah kepentingan “pertumbuhan ekonomi” dan akumulasi kapital.


Bagaimana kaum injili seharusnya meresponi hal ini dalam konteks Indonesia?

Kaum injili meyakini bahwa Alkitab sebgi firman Allah adalah dasar dari segala petimbangannya dalam meresponi tantangan aktual pergumulan hidup dan panggilan pelayanan. Alkitab ,sebagaimana sudah diulas diawal artkel ini sudah memberikan berbagai seruan bagi pengikut Kristus untuk menjadi pelaku yang pro aktif didalam penegakan keadilan sosial.
Kitab Mikha pasal 6 menyampaikan panggilan Allah terhadap umat Israel. Salah satu panggilan di ayat 8 adalah bahwa Allah yang memiliki atribut adil dan benar ,juga memanggil umatnya demikian :
“ Hai manusia telah diperintahkan kepadamu apa yang baik .Dan apa yang dituntut TUHAN dari padamu selain berlaku adil ,mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati dihadapan Allahmu?[11]
Tanpa berusaha menyederhanakan masalah besar ini, orang percaya , dipanggil oleh Kristus untuk menjadi garam dan terang dunia dengan mengambil bagian dalam menegakan keadilan sosial dan mengambil menjadi bagian dari solusi. Tidak dipungkiri juga bagi kita yang hidup di Indonesia,dan dalam konteks Indonesia aktual saat ini menjelang pemilu 2009 ,dimana 30 % angkatan kerja masih menganggur,40 juta orang dalam status pra sejahtera,angka kematian bayi dan gizi buruk yang cukup tinggi.Maka penegakkan keadilan sosial adalah tugas aktual yang seharusnya dilakukan dalam misi integral kaum injili selain misi penginjilan.
Hal pertama yang dapat dilakukan untuk terlibat dalam penegakan keadilan sosial dapat diawali dengan mengadopsi pemikiran teologi misi integral.Kaum Injili harus memahami dan memasukannya kedalam agenda teologisnya tentang pemahaman bahwa Allah yang maha adil dan benar itu juga menghendaki umat tebusannya sebgai warga kerajaan Allah untuk mencintai keadilan dan membawa keadilan sosial bagi umat mausia didalam dunia yang berdosa ini . Misi ini adalah mandat budaya yang seharusnya berjalan seiring dengan mandat injil.Seluruh lapisan warga jemaat perlu diberikan pemahaman ini agar memiliki perspektif sebagai subjek yang bertanggung jawab juga karena statusnya yang baru sebagai warga kerajaan Allah.
Hal yang kedua yang dapat dilakukan oleh umat percaya adalah dengan mengambil bagian didalam penderitaan korban ketidakadilan sosial. Gereja Indonesia perlu dibangunkan dari “eskapisme” terhadap issue kemisikinan. Kita melihat bahwa dalam 5 tahun terakhir ini gereja-gereja di Indonesia dengan begitu arogannya dan tanpa merasa bertanggung jawab telah melakukan hal ,yang menurut penulis ,merupakan pengabaian dan penyangkalan realitas. Dimana ditengah masa krisis berkepanjangan para pejabat gerejawi dari denominasi –denominasi besar justru membangun rumah ibadah dan ruang pertemuan yang sangat mewah. Yang secara ironisnya dananya juga dikumpulkan dari persembahan jemaat. Bahkan penulis menjumpai didenominasi tertentu dimana para jemaat (termasuk yang berkekurangan) dihimbau oleh para pendeta gereja bersangkutan untuk menjual hartanya ,menyumbangkan uangnya, dan terlibat dalam usaha-usaha pengumpulan dana untuk pembangunan “mega proyek” ambisius tersebut dengan mengatasnamakan “suara Tuhan” atau Perintah Tuhan”. Para jemaat yang lugu dan polos diberi pemahamaan yang sangat sempit tentang pekerjaan misi oleh para pejabat gereja yang ambisius . Gereja injili khususnya perlu bertobat dari hal ini . Gereja perlu merangkul korban kekerasan sosial,ketidakadilan sosial dengan cara membuka pintu seluas-luasnya untuk menjadi saluran berkat bagi mereka yang menjadi korban. Allah didalam alkitab adalah Allah yang berpihak kepada korban dan yang lemah. Gereja juga harus mengambil peran demikian didalam pendampingan dan rehabilitasi golongan yang lemah .
Langkah yang ketiga yang dapat dilakukan adalah dengan cara melakukan aksi proaktif secara politis bagi terwujudnya keadilan sosial regional. Langkah ini telah menjadi wacana ini telah diadopsi menjadi gerakan moral oleh World Evangelical Alliance pada tahun 2005 ,yaitu dengan memberikan dorongan bagi gereja-gereja injili untuk melakukan “upaya-upaya “ yang perlu untuk penegakkan keadilan sosial lingkungannya. Mulai dari penyelengaraan diskusi tentang issue keadilan sosial regional dalam kelompok sel ,keterlibatan gereja lokal dalam penciptaan lapangan pekerjaan bagi anggota jemaat dan masyarakat sekitar gereja, melakukan aksi politis damai mulai dari surat kepada wakil rakyat sampai demonstrasi damai. Mulai dari penolakan untuk bekerjasama dengan lembaga donor gereja yang korup sampai kepada pemboikotan produk-produk yang mengabaikan kesejahteraan sosial dalam proses produksinya.
Langkah keempat yang dapat dilakukan oleh orang percaya adalah tentunya membawa segala aksi dan tindakan penegakan keadilan sosial kedalam doa. Doa oarng percaya yang lahir dari kesadaran dan iman akan kedaulatan mutlak Allah tritunggal atas sejarah manusia. Doa yang lahir dari penghayatan akan beban sakit besalin yang ditanggung segala mahluk karena dosa (band. Roma 8:22) yang ditanggung oleh segala mahluk. Semakin spesifik pengenalan kita akan pegumulan di zaman ini ,maka beban doa yang dibawakan akan semakn jelas dan tulus.
Orang percaya sebagai bagian anggota keraajaan Allah yang sudah datang dan akan datang “dipanggil” sebagai orang yang telah diselamatkan untuk mewujudkan suatu refleksi kehendak Allah untuk keadilan dan kebenaran. Allah yang adil dan benar menghendaki dunia mengenal keadil benaran melalui cara hidup alternatif yang diwujudnyatakan dari anggota kerajaannya ditengah “rasa sakit bersalin” yang dialami segala mahluk karena dosa.
[1] Literatur pemuridan Kristen injili pada umumnya hanya menekankan pada jaminan keselamatan,saat teduh,integritas pribadi dan keuangan. Hal-hal yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial dan keadialn sosial sangat jarang dibahas didalam literatur pemuridan kristen injili. Apakah karena banyak buku-buku pemuridan kristen injili diterbitan oleh penerbit-penebit dari negara maju yang relatif tidak merasakan dampak ketidak adilan sosial global?
[2] Untuk studi lebih lanjut bandingkan dengan artikel Ortega,Ofelia ;The Mission of The Church in The Context of Crisis.Reformed World Journal .pp 133-135,Vol .54, 2004.
[3] Matius 22:34-40 ini menjadi dasar bagi banyak organisasi bernafaskan Kristen menjadi lembaga yang sangat menghargai kemanusiaan.Sebab penghargaan kepada kemanusiaan adalah bagian dari ibadah yang tidak terpisahkan dengan penghargaan dan kasih kepada Allah.
[4] Dalam parabel ini digambarkan oleh Yesus kesempitan berpikir orang Yahudi yang munafik yang memisahkan kasih kepada Allah dengan keadilan dan kasih kepada sesama dalam adegan dimana ada orang Lewi dan Imama yang adalah icon atau simbol kesalehan ,justru tidak menolong sesamanya yang menderita karena ketidakpedulianya atau mungkin karena beresiko akan merepotkan dirinya apabila ternyata korban perampokan itu meninggal dunia sehingga akan menajiskan dirinya (karena berkontak fisik dengan mayat) yang menurutnya akan menghambat hubungan mereka dengan Allah.
[5] www.Micahchallenge.org/overview
[6] Duchrow,Ulrich;Altenatives to global capitlism:Drawn for biblical History.Design for Political Action.pp.5.International Books.A Numakande 17,Utrecht 1994.
[7] Lihat jurnal Reformed World ,Empire.Vol 56 (4) December 2006 hal. 342
[8] Op.Cit. pp.63
[9] WARC;Covenanting of Justice :Accra Confession .Reformed World Vol.54.pp.170
[10] Aristoteles menyampaikan gagasan klasik tentang dua sistem ekonomi kapitalis. Sisitem ekonomi kapitalis yang baik digambarkan Aristoteles dengan sebutan oikonomia” ,yaitu sistem ekonomi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pokok angota rumah tangga dan masyarakat secara keseluruhan (koinonia,polis).Hal ini berarti bahwa tujuan utama ekonomi yang wajar adalah pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan sistem ekonoi yang kuran baik menurt Aristoteles adalah “Cherematistike” atau pengumpulan uang demi uang itu sendiri. Tujuan akhir ekonomi bukanlah social welfare lagi ,melainkan monopoli,spekulasi harga dan menjalankan Riba. Untuk penjelasan yang lebih lengkap pembaca dapat membaca buku karngan Aristoteles Politics ,buku 1 bab 8 -13
[11] Mikha 6 :8 LAI-TB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar